Cinta Mati??? Konyol Ga’ Sih???

Cinta, saat terasa memang indah dan membuat bahagia. Tak ada seorang pun yang tidak mengalami perasaan ini, meski hanya cinta pada dirinya sendiri, benda dsb.

Cinta sangat dibutuhkan sebab ada harapan di dalamnya bahwa cinta bisa memenuhi kebutuhannya, diantaranya kasing sayang dan penghargaan. Siapakah diantara kita yang tidak senang jika ada seseorang yang memperhatikan, melindungi dan memberikan kasih sayang kepada kita secara tulus. Hal ini juga berlaku terhadap orang yang tidak kita sukai sekali pun yang lalu memberikan itu semua pada kita. Oleh karena itu, hati manusia biasanya akan luluh hanya dengan ketulusan dan perhatian.

Namun sahabat, adakalanya cinta juga membuat seseorang menderita. Saat cinta datang, bahagialah hati. Saat cinta pergi, datanglah resah dan gundah hati. Sikap seseorang dalam menghadapi kenyataan cinta yang hilang itu beranekaragam. Ada orang yang biasa saja dan menganggapnya sebagai angin lalu, ”toh masih banyak yang lain”, ujarnya.

Dan ada pula yang kenyataan pahit ini disikapi dengan sikap yang sangat sentimentil. Biasanya hal ini menimpa orang-orang yang sangat melankolis, memiliki kesetiaan yang tinggi, juga memiliki pendirian yang sulit dirubah. Dia akan sulit untuk melupakan cintanya, bahkan sampai kapan pun. Inilah yang disebut cinta mati!

Cinta mati membuat seseorang yang mengalaminya terpenjara. Ia sebenarnya lahir dari sikap yang posesif. Namun, jangan tanya tentang kesetiaan orang-orang yang meiliki cinta mati ini. Seperti sebuah kisah Layla Majnun.

Cinta mati biasanya terjadi untuk kali pertama dan kali terkahir dalam hidup seseorang yang mengalaminya. Perasaanya sangat mendalam kepada orang yang dicintainya. Sang cinta pun seolah menjadi sumber kebahagiaan dan manifestasi dari keberadaan dirinya. Bahkan ia pun rela mengorbankan apa pun demi sang cinta. Harta, tenanga dan jiwa akan terkorban tanpa berfikir panjang saat dibutuhkan sebab ia sudah menganggap sang cinta adalah bagian dari dirinya juga.

Cinta mati memang romantis, tapi juga mengerikan sekaligus konyol. Sebab jika ia tidak berhasil mendapatkan sang cinta, maka dia akan tetap mencintainya. Akibatnya, ada orang yang memutuskan untuk tidak menjalin hubungan atau menikah dengan siapa pun karena perkara si cinta mati ini. Dia akan setia selamanya. Kasus ini banyak terjadi, bahkan ada juga film dari negeri India yang menayangkan kisah tentang cinta mati ini.

Sebuah film yang mengharukan.
Dikisahkan ada seorang pemuda desa yang datang ke kota, yaitu ke rumah pamannya untuk bekerja karena dia telah lulus dari sekolah yang ada di desanya. Ia pun akhirnya Betul, betul2 tinggal di rumah pamannya itu. Wah, mudah ditebak ya..

Pria desa itu ternyata mencintai putri pamannya yang seusia. Kehidupannya di rumah pamannya itu dirasakan begitu berbeda dengan hidup di desa. Dulu ia bersekolah di sekolah yang dipisahkan antara pria dan wanitanya, bahkan antara kaum adam dan hawanya tak memiliki kesempatan untuk saling bertatap muka dan bertemu.

Begitulah. Di rumah pamannya, ia tak hanya bertemu dengan seorang gadis, malah tinggal dalam satu atap rumah. Pria desa ini merasakan kebaikan dari keluarga pamannya yang hangat, termasuk putrinya yang cantik juga baik hati. Sambil bekerja di kota tempat tinggal pamannya itu, ia pun hampir setiap hari membantu pekerjaan rumah tangga di rumah pamannya yaitu membantu mengurusi kebun bunga di pekarangan rumahnya yang luas.

Di saat itulah tak jarang ia bertemu dan ngobrol-ngobrol dengan putri pamannya itu yang sangat menyukai bunga mawar putih. Putri pamannya itu adalah seorang wanita yang ceria, agak manja namun baik hati. Ia banyak bercerita dengan pria desa itu. Tentang kuliahnya, temannya dan sebagainya. Dari pertemuan dan perbincangan itulah, sang pria desa tercuri hatinya. Ia kagum dan mencintai putri pamanya itu.

Namun di suatu hari, putri pamannya itu bercerita tentang hal yang malah membuat hatinya terluka. Gadis itu ternyata bercerita tentang teman kuliahnya yang disukainya yang juga mencintainya. Wah, bagaimanakah perasaan sang pemuda desa ini?

Hancur, lebur, pecah berkeping-keping..
Hiks.. hiks..

Aku terharu pada saat sang pemuda desa itu menitikkan air matanya sambil tersenyum dengan matanya yang berbinar-binar kepada seorang gadis yang sedang bercerita dengan gembiranya itu..

Setelah gadis itu pergi, pemuda desa itu hanya bisa memandangi bunga-bunga mawar putih yang disukai gadis yang dicintainya itu. Lalu ia memandanginya satu dengan mata yang masih berkaca-kaca. Hanya satu. Dan dia pun tak berani memetiknya.
Adegan ini adalah analogi dari kisah cinta sang pemuda desa. Ia sudah terlanjur mencintai tuan putri. Ia sudah memlihara bunga, merawat cintanya, cinta pertamanya. Dan, ia akan selalu setia pada cintanya. Sepertinya, cintanya sudah mendarah daging dalam jiwanya. Ia tak sanggup mencintai lagi. Yang bisa ia lakukan kini adalah menunggu bunga itu untuk dipetik oleh orang lain.

Benarlah, ini memang cinta mati. Cinta hanya pada satu orang dan sampai kapan pun akan selalu mencintainya walau tak berbalas, walau ia tak dicintai juga. Yang penting bagi dirinya adalah, asalkan orang yang dicintainya bahagia, maka ia pun akan turut bahagia. Subhannallah, cinta yang begitu tulus..

Akhirnya, putri pamannya itu tak lama kemudian menikah dengan pria yang dicintainya. Dan bagaimanakah dengan pemuda itu? Ya, di akhir pelaksanaan upacara pernikahan, pemuda desa itu berpamitan pulang. Di hari yang berbahagia bagi gadis itu, tanpa di duga sebelumnya, sahabatnya pergi. Mungkin bagi gadis itu, hari itu adalah hari yang paling bahagia sekaligus paling berduka. Tahulah ia, saat pemuda desa itu berbicara untuk terakhir kalinya dengan dirinya, bahwa pemuda desa itu pun mencintainya. Sang gadis pun terharu dan tak bisa berbuat apa-apa setelah mendengar penjelasan dari pemuda desa itu tentang kepergiannya yang mendadak.

Pemuda desa itu pun pergi sambil membawa perasaan cintanya. Pergi dengan harapan bisa melupakan gadis itu yang sebenarnya tak kan bisa ia lupakan. Dan kata-kata terakhir dari sang pemuda kepada yang dicintainya itu :

”saya senang bisa bertemu denganmu,
membuatku bahagia dan menyayangimu..
Sampai kapan pun akan selalu mencintaimu..
Hanya kau yang pertama dan terakhir bagiku..
Untuk itu, ada baiknya aku pergi, bukan karena tidak suka.
Tapi sungguh, aku pun bahagia, karena kau pun bahagia. Hanya saja,
aku pergi karena justru ingin tetap memelihara cinta ini dengan cara menebarkannya pada orang2 yang akan ku jumpai nanti.
Ya, aku berkelana untuk menebarkan cinta.. Terima kasih sahabatku, kau telah membuatku menjadi seorang pecinta..
Selamat tinggal..”

Hiks, hiks.. bener-bener cinta mati..
Sahabat, apakah Anda termasuk orang yang punya pengalaman seperti ini atau ada teman Anda yang seperti ini?? Atau Anda juga memegang prinsip; yang pertama dan yang terakhir?
Memang tidak banyak kasus bertemakan cinta mati di dunia ini. Tapi, cukup membuat kita untuk memahami tentang artinya kesetiaan, kepercayaan dan ketulusan… Walau terkesan konyol dan bodoh, tapi cinta mati ini benar-benar tuluuuuuuuuus..
Jadi, teman-temanku.. konyol ga sih cinta mati itu???

0 comments:

Post a Comment