Integritas dan Makna dalam Menjalankan Amanah

Semoga tulisan ini bermanfaat

Semoga Allah melindungi kita dari godaan syetan yang terkutuk

Bismillahirrahmaanirrahiiim

Sahabat, syukur Alhamdulillah saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk menjadi penyiar yang merupakan salah satu impian saya sejak dahulu kala. *halah..* Profesi penyiar ini merupakan minat saya dalam bidang media dan komunikasi. Meski memang jurusan di perkuliahan yang saat ini sedang saya ambil adalah matematika. *salah jurusan ga sih? :D* Namun saya tetap bersyukur, saya bisa hidup sebagai manusia yang mempunyai peran dan amanahnya yang sekarang. Sungguh, melalui kampus ITB ini, saya bisa banyak belajar dan banyak kesempatan yang bisa saya ambil. ITB, Salman dan kemudian komunitas Darut Tauhid yang kini saya berada di dalamnya dalam lingkup MQFM sebagai penyiar.

Dimana pun saya berada, ada suatu amanah disitu. Namun, amanah kali ini, benar-benar sangat menguji diri saya. Menguji integritas saya sebagai manusia yang berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi. Integritas adalah kesesuaian antara apa yang dituturkan dengan tindakan dengan sikap sehari-hari. Hal ini sangat erat kaitannya dengan kejujuran. Kejujuran terhadap diri sendiri dan Allah Swt.

MQFM merupakan media yang berlandaskan pada dakwah dari segi kontent atau konsep dan cara pelaksanaanya atau metodenya. Maka MQFM menjadi radio islami yang akan selalu menjaga nilai-nilai islam dan akan selalu mempromosikan (mengenalkan) Allah SWT di dalamnya kepada keluarga-keluarga muslim sebagai segmentasinya.

Untuk itu, menjadi penyiar diMQ, berarti juga telah mengambil amanah dakwah. Amanah ini sungguh berat kurasa akhir-akhir ini setelah jam siaranku makin meningkat. Saat ku berucap atau mengeluarkan kata-kata kebaikan yang berbau nilai-nilai positif, ada sebuah pertanyaan yang selalu mengganjal dalam benak ini; ”sudahkah saya pun bersikap atau berbuat seperti apa yang saya katakan kepada orang lain?” Pertanyaan itu kerap hadir..

”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. As-shaff:2-3)

Ayat di atas membuatku takut. Membuatku pun membayangkan saat di akhirat nanti saat saya harus mempertanggungjawabkan semua kata-kata yang pernah terucap dari mulut ini.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Israa’:36)

Ya, jadi tidak hanya sekedar berucap, tapi kita harus tahu makna apa-apa yang akan diucapkan. Harus tahu seluk beluk ilmunya. Selanjutnya, bahwa kata-kata itu telah ada pada diri kita dan kita memang telah melakukan apa yang kita katakan. Inilah tantangannya. Sungguh, jika demikian, maka kata-kata yang terucap akan lebih berbekas, tidak sekedar angin lalu.

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (An-Nissa:63)

Semoga, saya bisa mengemban amanah ini dengan baik. Semoga Allah selalu melindungi saya dari perkataan yang tidak bermakna dan sia-sia. Semoga Allah selalu menjaga integritas saya. Semoga Allah meridhai..

Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).

(QS. Al-Maa’idah:85)

Satu hal, amanah ini membuatku lebih banyak belajar dan merenung. Karena segala sesuatu pasti memiliki makna, memiliki pengertian khusus yang mestinya dirasakan juga oleh jiwa kita. Dan Allah SWT menciptakan segala sesuatu bukan karena kebetulan, tapi pasti ada sesuatu, ada makna dibalik penciptaan-Nya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran:190-191)

Sahabat, ayat di atas adalah salah satu wahyu yang membuat Rasulullah SAW menangis. Beliau menangis karena ternyata banyak di antara manusia yang tatkala melihat ciptaan-Nya, langit, awan, matahari, bulan dsb., mereka melihatnya dengan pikiran kosong dan tidak menyadari keagungan Tuhan dibalik setiap ciptaan-Nya.

Semoga, kita termasuk golongan orang yang mampu mengikat makna, untuk mendekatkan diri kita pada-Nya. Amiin..
noviaa.wordpress

0 comments:

Post a Comment