Iri hati pada Haritsah yang Istiqamah..

perang-haritsah.jpg

Iri hati? Boleh ga sih?

Ya boleh lah, asalkan iri hatinya terhadap amal baik seseorang. Setelah membaca kisah di bawah ini, apakah Anda menjadi…

Dahulu, Nabi Saw. Sangatlah perhatian menanamkan hakikat istiqomah dalam jiwa anak-anak muda. Suatu ketika, Nabi menemui Haritsah r.a. yang ketika itu masih berusia tujuh belas tahun, masih remaja. Pada usia ini, umumnya seseorang tengah digoda oleh berbagai kecamuk pikiran; bagaimana rasanya hidup bebas, bagaiamana rasanya melakukan hal ini dan itu. Akan tetapi, Haritsah adalah contoh pemuda dalam keteguhan. Hal ini menunjukkan bahwa memang ada orang-orang yang hidupnya lurus dalam ketaatan.

Nabi Saw menemuinya suatu hari, lalu terjadilah dialog seperti biasa, “Bagaimana kabarmu pagi ini, wahai Haritsah?” sapa Nabi.

Jawaban umum untuk pertanyaan seperti ini adalah “Alhamdulillah, baik-baik saja”, atau “Sehat-sehat saja”, atau “ada sedikit persoalan”, dan jawaban-jawaban serupa yang lainnya. Akan tetapi, pemuda istiqomah seperti Haritsah ini memiliki jawaban yang berbeda:

“Pagi ini seakan-akan aku menyaksikan arasy Tuhanku muncul. Sepertinya, aku menyaksikan ahli syurga tengah menikmati hidangannya, dan sepertinya aku menyaksikan ahli neraka merintih kesakitan. Aku pun berpaling dari dunia untuk begadang (ibadah) di malam hari dan berlapar-lapar di siang hari.”

Subhannallah..

Har itsah masih berada di permulaan kehidupannya ketika berusia tujuh belas tahun. Namun, ia telah berfikir sedemikian besar. Ia meletakkan dunia sebagaimana sewajarnya; kecil di matanya. Di malam hari ia qiyamul lail sedangkan di siang hari ia puasa. Nabi pun menjawab,”Wahai Haritsah, engkau telah tahu, pegang teguhlah!”

Engkau telah tahu, pegang teguhlah! Artinya, jadilah seorang lelaki sejati dan hidup luruslah. Apakah Haritsah lalu benar-benar memegang teguh ataukah ia hanya seorang pemuda puber yang mendengar satu dua kata nasihat dari seseorang lalu sirna begitu saja? Oh, tidak. Hritsah benar-benar berpegang teguh. Buktinya setahun setelah kisah ini, datanglah Perang Badar dan kaum muslimin keluar untuk bertempur. Sebelum perang dimulai, diketahui bahwa pasukan muslimin termuda ternyata bernama Haritsah, si pemuda itu. Bahkan sebelum perang berkecamuk, sebuah anak panah melesat dari seorang kafir. Anak panah itu pun meluncur menuju leher Haritsah dan ia pun gugur sebagai seorang syuhada.

Ibu Haritsah tergopoh-gopoh dating kepada Nabi Saw., “Wahai Rasulullah, di syurgakah Haritsah, sehingga aku bahagia, atau di neraka sehingga aku akan sungguh-sungguh berdo’a untuknya?”

Nabi pun menjawab, “Wahai ibu Haritsah, ia bukan hanya satu syurga, bahkan syurga-syurga yang banyak jumlahnya. Anakmu memperoleh syurga Firdaus yang tinggi”. (HR. Bukhari dari Anas Bin Malik)

Sahabat, tentunya kita akan sangat iri pada Haritsah r.a. Akankah kita pun akan menjadi pemuda yang istiqomah seperti beliau? Mari kita panjatkan dalam do’a-do’a kita agar bisa menjadi muslim yang taat dan istiqomah dan mendapatkan anugerah berupa syurga Firdaus yang tinggi.aamiin..

0 comments:

Post a Comment