Pengaruh Karya Algebra Al-Khawarizmi




Karya Al-Khawarizmi yang berjudul The Algebra telah dikenal luas selama berabad-abad. Bahkan karyanya itu telah diterjemahkan dan diadaptasikan dalam tulisan matematika. Para ahli matematika pada masanya dan saat ini memberikan pendapat mereka tentang tulisan Algebra, antara lain Ibnu Turk, Thabit Ibn Qurra, Al-Sidnani, Sinan Ibn Al-Fath, Abu Kamil dan Abu Al-Wafa Buzjani. Beberapa di antara mereka terlibat secara langsung memberi masukan dalam membentuk rumusan-rumusan aljabar.



Tulisan Algebra populer di negara-negara Barat pada permulaan abad kedua belas ketika para pelajar Eropa mulai menterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin, antara lain Johannes Hispalensis, Gherardo of Cremon, Adelard of Bath dan Robert of Chester yang hasil terjemahannya dikenal cukup luas.


Penulis matematika, Roger Bacon (1214-1294) dan Vincent de Beauvais (sekitar 1275), menjadikan karya Al-Khawarizmi sebagai referensi dan mengambil beberapa istilah yang ditemukan dalam buku tersebut. Demikian pula Albertus Magnus (1208-1280) mengacu kepada tabel yang terdapat pada tulisan Al-Khawarizmi. Yang lebih dahulu dari Roger Bacon adalah Leonardo Fibonacci, dengan karya besarnya ”Liber Abbaci”. Pada salah satu bab dalam bukunya berjudul, Aljebra et Almuchabala, di mana keenam kasus dari persamaan kuadrat dijabarkan sama seperti Al-Khawarizmi. F.Woepcke, seorang sejarawan matematika yang termasyur, menyebutkan bahwa Fibonacci mengutip model Al-Khawarizmi untuk contoh soal. Tetapi sebagian dari kasus-kasus tersebut kemungkinan berasal dari Abu Kamil, tokoh di mana Fibonacci mengutip sebagian masalah dalam aljabar.


Di masa keberadaan Fibonacci, seorang ahli matematika Italia, William of Luna, dianggap sebagai penerjemah ’The Algebra of Al-Khawarizmi’ kedalam bahasa Italia. Referensi tulisan tersebut dibuat oleh beberapa peneliti pada abad keenam belas. Sedangkan Johannes de Muris, peneliti yang berpengaruh pada abad keempat belas mencantumkan diskusi tentang aljabar pada buku ketiganya, Quadripartitum numerorum. Karpinski yang membuat studi lanjutan pada bidangnya menunjukkan bahwa ia secara ekstensif menggali sumber-sumber Leonard of Pisa dan Al-Khawarizmi yang mendapat pengaruh dari bahasa Arab. Regiomontanus (Johannes Muller) (1436-1476) ahli mateatika besar dari Jerman, mencantumkan karya populer Johannes de Muris di dalam daftar karya utama matematika.




Buku Algebra karya Al-Khawarizmi memberi kesan mendalam pada karya Regiomontanus, salah seorang ahli matematika yang berpengaruh pada abad kelima belas. Karya Al-Khawarizmi sepertinya memberi pengaruh besar kepada Regiomontanus, salah seorang ahli matematika yang berpengaruh pada abad kelima belas tersebut. Ia tidak saja mengacu dengan akar kuadrat (ars rei et census) tetapi juga menggunakan teknik pengungkapan tertentu; ’restaurare defectus’, sebagai satu contoh,
dengan cara sama yang persis dengan pemahaman di dalam aljabar. Karpinski mencantumkan, kopi naskah Algebra karya Al-Khawarizmi yang ditampilkan dalam kumpulan tulisan Plimpton menyerupai tulisan-tulisan tangan dan pemakaian singkatan yang digunakan Regiomontanus sebagaimana bentuk persamaan yang digunakan.


Adam Riese menuliskan buku berjudul, Die Coss (1524) yang memiliki contoh soal x2 + 21 = 10x. Riese mengungkapkan bahwa Al-Khawarizmi sebagai ahli aljabar yang paling mahsyur dari Arab yang mendalami angka-angka yang tidak pernah dijumpai sebelumnya dalam perhitungan, tidak ada seorang pun yang mampu menyamainya. Pengaruh karya Al-Khawarizmi sangat besar pada naskah negara-negara Barat dan Latin yang terlihat pada format tulisan dasar-dasar aljabar yang dipelajari di daratan Eropa.


Di akhir abad keenam belas Andrian Romain, menganggap Algebra-nya Al-Khawarizmi pantas untuk dipelajari secara serius. Selain itu, beliau segera menerbitkan tulisan-tulisan tentang komentar terhadap topik aljabar. Hingga saat ini,para pengajar dasar-dasar matematika melihat adanya kecocokkan antara tulisan Algebra dari Al-Khawarizmi dengan penerapan ide-ide maupun saran-saran yang disampaikan oleh Al-Khawarizmi seribu tahun yang lalu. Dan mungkin hal tersebut masih tetap digunakan hingga saat ini di kelas-kelas.


Setelah Al-Khawarizmi meninggal, keberadaan karyanya beralih kepada komunitas Islam termasuk cara menjabarkan bilangan dalam sebuah metode perhitungan, termasuk dalam bilangan pecahan; suatu pengetahuan aljabar yang merupakan suatu warisan untuk menyelesaikan persoalan perhitungan dan rumusan yang lebih tepat dari yang pernah ada sebelumnya.


Di dunia Barat, matematika lebih banyak dipengaruhi oleh karya Al-Khawarizmi dibandingkan dengan karya para penulis pada abad pertengahan. Masyarakat modern saat ini berhutang budi pada seorang Al-Khawarizmi dalam hal penggunaan bilangan Arab. Selain itu, notasi penempatan bilangan dengan basis 10, penggunaan bilangan irasional, dan diperkenalkannya konsep aljabar modern membuatnya layak menjadi figur penting dalam bidang matematika di abad pertengahan. Sistem bilangan Arab yang diperkenalkan oleh Al-Khawarizmi membawa perubahan dalam komposisi dan karakteristik matematika dan revolusi proses perhitungan di abad pertengahan di daratan Eropa. Dengan penyatuan matematika Yunani, Hindu dan mungkin Babilonia, teks aljabar merupakan salah satu karya Islam di dunia internasional. Di sampingitu, kita juga tentu tidak akan melupakan karyanya yang lain seperti huruf-hhuruf aljabar, algoritma, penemuan notasi angka nol dan nilai akar bilangan yang merupakan bukti peran Al-Khawarizmi dalam pengembangan ilmu pengetahuan tentang perhitungan.





0 comments:

Post a Comment